Selasa, 30 Oktober 2012

“LOVE, SEXS DAN DATING”



 “LOVE, SEXS DAN DATING”
Data BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) tahun 2010 menunjukkan, 51% remaja di Jabodetabek sudah melakukan seks pra nikah alias tidak perawan! Di Surabaya 54%, Bandung 47%, dan Medan 52%!! Estimasi jumlah aborsi di Indonesia adalah 2,4 juta kasus per tahun, 800.000 di antaranya adalah pada usia remaja. Sungguh suatu data yang mengerikan. Iblis berhasil dengan segala strateginya melumpuhkan anak-anak muda, termasuk anak-anak Tuhan. Semua diawali dari hal yang sangat sederhana, dan tidak ada satu manusia pun yang tidak rentan. Orang sekaliber Daud saja bisa jatuh dalam dosa perzinahan, apalagi kita. Sehingga kita harus sungguh-sungguh menjaga diri, menjaga kekudusan hidup (bukan sekedar tidak berhubungan seks sebelum menikah tetapi sudah yang lainnya), Sehingga masa muda kita maksimal dipakai untuk kemuliaan Tuhan.
Konsep kehidupan orang Kristen berbeda dengan orang-orang lain. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan dalam anugerah untuk mengambil bagian dalam rencana karya penyelamatan Allah dalam tuhan Yesus Kristus. Kehidupan yang bertujuan untuk mengerjakan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelum dunia diajadikan (Efesus 2:10). Oleh karena itu, bagi orang Kristen bahwa pergaulan, pacaran, dan pernikahantidak lain dari proses kematangan hidup untuk semakin dipersiapkan, memikul danmengerjakan pekerjaan baik yang sudah disiapkan Allah.Dalam Kekristenan pacaran disebutkan sebagai suatu masa perkenalan antara dua pribadi yang menjadi satu kesatuan tubuh dalam kasih dan iman yang sungguh kepada Allah (bnd Kej 2:24; 1 Kor 7:1-16). Pacaran bukanlah sekedar perkenalan saja, melainkan suatu hubungan yang mengikat dua pribadi menjadi satu keutuhan yang menuju kepada pernikahan kudus (bnd Mat 19:6a). Setiap orang akan selalu berusaha mencari orang yang terbaik untuk dijadikan pacar. Seorang laki-laki hendaklah mencari pacar seorang wanita, dan sebaliknya hendaklahseorang wanita mencari pacar seorang pria. Namun yang menjadi pertanyaan :
Apa yang membuat dua jenis manusia itu saling tertarik satu sama lain? Manusia adalah makhluk  jasmani dan rohani. Awal ketertarikan dapat dimulai dari segi jasmani atau rohani dan perlu diketahui sulit sekali menetapkan usia berapa tahun dapat berpacaran. Seorang priadapat tertarik kepada seorang wanita karena kecantikan, kesabaran, kelemah-lembutan atau kegigihannya. Dengan berpacaran dua individu berusaha saling mengasihi dan mencintai untuk kemudian dipersatukan sekalipun memiliki rentan usia yang jauh. Baik tua maupun muda tidak lepas dari cinta-mencintai.´
Dalam berpacaran ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu :
  • Tahap Perkenalan : suatu tahapan di mana dua pribadi berusaha untuk saling mengenalsatu sama lain. Bagi pria dan wanita yang sudah saling kenal sebelumnya, proses salingmengenal itu lebih cepat.
  • Tahap Penjajakan : pria dan wanita saling berusaha untuk mengenali kebiasaan, dansifat-sifat. Dari situ mereka dapat saling mengetahui apa mereka beruda saling tertarik dan mau saling berhubungan lebih dekat.
  • Tahap Pendekatan : kedua individu berusaha untuk saling menerima satu sama lain, yangakhirnya menampakan ada rasa ingin lebih dekat lagi.
  • Tahap Kesepakatan : hubungan kedua individu yang berlainan tersebut bukan lagi sekedar kenal, bukan lagi sekedar bersahabat, melainkan melangkah dalam kesepakatan untuk menikah. Akan tetapi dalam hubungan berpacaran, seringkali anak-anak remaja jatuh ke dalam dosa seks.Dengan kata lain melakukan seks di luar nikah. Berbuat seolah-olah sudah suami istri, atau menganggap dunia ini milik kita berdua´dan kurang memperhatikan teman-teman lain yang ada di sekitarnya.
Selain itu dalam berpacaran sering juga terhalang karena faktor orang tua tidak setuju, misalnya karena perbedaan suku/budaya, adanya perbedaan pendidikan. Oleh karena itu dalam berpacaran perlu adanya keterbukaan dan pengenalaan yang lebih mendalam lagi mengenai latar belakang seseorang yang akan dijadikan pacar. Selain itu terdapat juga masalah-masalah yang lebih khusus lagi, misalnya cemburu. Hal itu boleh saja terjadi untuk menandakan ada rasa cinta. Tetapi jika berlebihan akan mengakibatkan hal yang sangat fatal. Saling menerima satu sama lain, bukan yang didasarkan pada nafsu (cinta erotis) melainkan didasarkan pada kasih Ilahi (Agape)
 
Prinsip-prinsip:
·      Pacaran adalah masa persiapan menuju pernikahan.
Berapa banyak pasangan menikah yang berpacaran sejak usia SMA? Usia muda yang terbaik digunakan untuk maksimal melayani Tuhan. Ketika kita tidak memiliki pasangan, maka konsentrasi kita untuk melayani Tuhan lebih besar (1 Kor 7:32-35). Oleh karena itu, jangan memulai suatu hubungan pacaran, bila kita tahu pada akhirnya akan putus karena kita tidak sedang berencana menikah dengan orang tersebut. Hal itu akan membuang waktu, tenaga, biaya, perhatian, dll, sehingga kita sangat tidak maksimal dalam melayani Tuhan. Jalinlah hubungan persahabatan yang baik. Rasa suka memang pasti hinggap di hati kita di masa-masa usia belasan. Mintalah Tuhan untuk mengontrol perasaan hati, dan menunggu waktu yang tepat untuk memulai hubungan pacaran yang serius, menuju pernikahan.
·      TUHAN sudah mempersiapkan seorang yang terbaik.
Jangan kuatir tidak akan dapat pasangan hidup, karena Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik. Tuhan tahu kebutuhan kita anak-anakNya. Tuhan tahu kebutuhan kita akan makanan, pakaian, termasuk pasangan hidup (Mat 6:31-33). Dalam buku Waiting and Dating, kita akan menemukannya dalam perjalanan “mencari dahulu Kerajaan Allah”. Cari dahulu panggilan hidup, dan fokuslah melayani Allah. Tiba-tiba kita akan bertemu seseorang yang luar biasa, yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan!
·      ROH-JIWA-TUBUH.
Inilah aturan Alkitab dalam kita memilih pacar (calon pasangan hidup). Jangan karena si dia sangat cantik / ganteng, kita tidak lagi mempedulikan kondisi rohani dan karakternya. Hukum Tuhan adalah sebaliknya. Lihatlah terlebih dahulu kondisi rohaninya, dan jatuh cintalah padanya terutama karena hal ini! (Ams 31:30) Lalu lihatlah karakternya, bagaimana kedewasaannya dalam bertingkahlaku, berbicara, bekerja, dll. Baru kemudian ketertarikan secara fisik. Pacaran (apalagi menikah) dengan orang yang tidak seiman tidak dibenarkan menurut Alkitab (2 Kor 6:14). Tidak seiman bukan hanya soal beda agama. Orang Kristen yang hidup jauh dari Tuhan juga termasuk tidak seiman. Pasangan yang lahir baru adalah syarat mutlak, bila ingin menikmati rumah tangga yang berbahagia.
2 Korintus 6:14 menuliskan: Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya. Hal ini sangat penting sekali untuk diingat oleh setiap anak Tuhan. Kita harus beraniberkata tidak dengan orang yang tidak seiman. Mengapa harus seiman? Karena dalam keluarga Kristiani, Kristuslah yang menjadi kepala dalam keluarga. Dengan dasar iman kita banyak membuat keputusan. Contoh yang sangat mudah, bila suatu saat kita dipecat dari pekerjaan. Orang beriman akan datang kepada Tuhan dan berdoa, tetapi orang tidak beriman bisa sampai bunuh diri karena putus asa. Kita sebagai anak Tuhan tidak bisa selalu sejalan dengan yang bukan anak Tuhan, maka akan terjadi banyak masalah di kemudian hari. Seringkali orang berkata, “Ya nanti saya injili dia”. Hati-hati dengan hal ini, bila kita tidak kuat bisa-bisa kita yang mundur dari Tuhan. Jangan pakai pacaran sebagai media untuk penginjilan. Hal itu sangat beresiko tinggi. Lalu apa yang dimaksud dengan seimbang? Seimbang disini berarti pasangan kita sama-sama punya kerinduan untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Karena sekarang ini banyak sekali orang Kristen KTP. Orang Kristen KTP bukanlah orang Kristen yang sungguh-sungguh, jadi hampir sama saja dengan orang yang bukan Kristen dan akhirnya kita akan menemukan masalah-masalah yang sama seperti bila kita berpacaran dengan orang yang tidak seiman
·      Visi pacaran: keluarga Kristen misioner.
Akwila dan Priskila adalah contoh pasangan ideal dalam Alkitab yang patut kita teladani (Kis 18:2-3, 18, 26-28, Rom 16:3-5). Mereka menampung Paulus, seorang misionaris yang “sangat beresiko” di rumah mereka, dan mereka mendukung pelayanan Paulus di Korintus. Mereka berdua menemani Paulus sampai ke Efesus, dan tinggal disana. Lalu mereka berdua melihat kekurangan dalam diri Apolos, lalu dengan teliti mengajarkan Firman Tuhan dan memuridkan Apolos, sampai Apolos menjadi sangat berguna bagi jemaat. Bahkan menurut surat Paulus di Roma, keduanya mempertaruhkan nyawa bagi pelayanan Paulus, sampai seluruh jemaat bukan Yahudi menyampaikan terima kasih pada pasangan ini. Rumah mereka pun dipakai untuk kebaktian jemaat.
Inilah pentingnya memilih pasangan hidup yang sevisi di dalam Tuhan, yang sama-sama mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Suami istri yang demikian akan sangat luar biasa dipakai oleh Tuhan. Contoh: dr. Paul Brand dan dr. Margaret Brand, pasangan dokter dari Inggris yang mengabdikan diri untuk melayani Tuhan, dengan menjadi dokter untuk penderita kusta di India. Biasakan mengisi pacaran dengan hal-hal rohani, seperti berdoa sebelum dan seusai pertemuan, membahas Firman, membicarakan pelayanan, pelayanan bersama, dll. Utamakan saling mengenal satu sama lain dalam berpacaran. Pernikahan harus menjadi kesaksian, yang membuat orang tidak trauma dengan pernikahan.
·      Pakailah Akal Sehat.
Kejadian 24:14 menulis demikian: Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata:Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum; dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begituakan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.Ayat ini memperlihatkan bahwa Eliazar, hamba Abraham yang mendapat tugas mencarikan isteri untukIshak memakan akal sehatnya. Ia mencari seorang wanita yang baik, yang rajin bekerja, yang maumenolong dan murah hati.Orang bilang “Love is blind”. Hal ini tidak berlaku buat anak-anak Tuhan. Justru dalam masa pacaran kitaharus mengenali pasangan kita dengan sungguh-sungguh. Kita buka mata kita terhadap semua sifat-sifat pasangan kita, baik itu yang positif maupun yang negatif. Bila kita pakai prinsip “Love is blind” maka kitatidak boleh bersedih bila nanti kita baru tau bahwa pasangan kita malas luar biasa. Jangan sampai kitaharus mencucurkan banyak airmata hanya karena kalimat “Love is blind” ini.
·      Pacaran bukan untuk mengisi hidup agar lebih utuh.
Keutuhan hidup tidak akan pernah bisa dicapai dari pasangan hidup (Yoh 4:13-18). Hanya Tuhanlah yang dapat membuat hidup kita terasa lengkap dan utuh. Bagaikan 2 gelas setengah penuh yang mencoba saling mengisi, ketika 1 penuh, maka yang lain kosong. Ketika seseorang berpacaran hanya untuk mengisi kekosongan, maka ia akan terus menuntut perhatian demi perhatian dari pasangannya. Kisah pacaran akan diisi dengan tuntutan-tuntutan yang membuat pasangan lainnya gerah, lalu mencari pasangan yang lain, atau mencoba mengatasi kekesalannya dengan hal-hal lain.
·      Cinta tidak pernah berfokus pada diri sendiri.
Definisi kasih digambarkan Allah yang rela mengorbankan diriNya (Agape), segalanya, demi keselamatan dan kebahagiaan kita, manusia yang berdosa (Yoh 3:16). Salah satu ciri kasih dalam 1 Kor 13:4-7, adalah tidak mencari keuntungan diri sendiri. Memanfaatkan pacar untuk ketenaran diri, kepuasan diri, kebutuhan diri (akan uang si pacar, kecerdasan si pacar, dll), bukanlah cinta. Cinta berarti rela mengorbankan kepentingan diri demi sang pasangan.
·      Jaga kekudusan dalam berpacaran.
Dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, Joshua Harris menegaskan bahwa ciuman pertama harus dilakukan di altar gereja, saat pemberkatan pernikahan. Hindari ciuman dalam berpacaran. Hindari banyak sentuhan fisik dalam berpacaran. Bergandengan tangan sudah lebih dari cukup. Hindari berduaan di tempat sepi, dan berpakaianlah lebih tertutup untuk wanita (Yak 1:14-15, 1 Tim 2:9). Wanita sangat memegang peranan penting dalam hal ini. Ilustrasinya bagaikan kepalan tangan. Jika jempol sudah terbuka, maka jari-jari lainnya akan mudah dibuka. Jika ciuman sudah dilakukan, maka hal-hal yang lebih jauh dari itu akan mudah dilakukan, dan tanpa sadar seks pra nikah pun terjadi. Ingatlah untuk selalu berdoa, menyepakati hal ini dengan pasangan, dan meminta Roh Kudus yang menguasai diri kita sepenuhnya sehingga kita mampu mengendalikan diri (Gal 5:22). Kegagalan masa lalu sudah berakhir dan tidak perlu diingat, ketika kita mengalami lahir baru, dan Roh Kudus hidup di dalam kita. Jalanilah hidup baru, termasuk hidup pacaran yang kudus di hadapan Tuhan.
·      Siap pacaran, harus siap kehilangan.
Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Tetapi berhati-hatilah bila kita mulai menganggap pacar kita sebagai segala-galanya. Ketika kita memiliki sikap siap kehilangan dia dalam hati, walaupun sulit, berarti kita masih berpusat pada Kristus dalam hubungan kita. Bila kita tidak siap kehilangan dia, tidak mau lepas darinya, tidak bisa hidup tanpa dia, maka kita sesungguhnya telah berpusat pada pasangan kita (Mat 10:37-39, 22:37-38).
·      Seks pra nikah adalah dosa.
Seks adalah lambang bersatunya dua manusia menjadi satu daging, dan itu hanya terjadi setelah pernikahan (Mat 19:5-6, 1 Kor 6:16, Ibr 13:4). Seks dalam pernikahan adalah hal yang begitu indah yang dikaruniakan Allah untuk dinikmati manusia dalam keluarga. Sebaliknya, seks pra nikah akan membawa kedukaan dan berbagai masalah yang berujung pada kehancuran rumah tangga. Masalah hawa nafsu bukan hanya seks pra nikah. Alkitab menyebutkan perzinahan sudah terjadi ketika kita memandang lawan jenis dengan mata penuh nafsu (Mat 5:28). Membicarakan hal-hal seksual dengan penuh nafsu juga kekejian di mata Allah (Ef 5:3). Termasuk juga dalam kategori dikuasai hawa nafsu adalah: masturbasi, menonton film yang ada adegan porno dengan sengaja untuk melihatnya, menelusuri pornografi di internet, menikmati bacaan seksualitas dalam novel remaja, imajinasi seksual, menikmati bacaan artikel seks di majalah dewasa, dan tindakan-tindakan lainnya (Gal 5:19-21). Godaan hawa nafsu datang setiap saat. Oleh karena itu, ketika hal-hal seperti ini datang dalam pikiran kita, segeralah “lari” kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Yusuf. Berlama-lama memandang seperti Daud terhadap Betsyeba, berakibat perzinahan terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar